Serambi Dimensi

Minggu, 10 Februari 2013

King House' :)


Bismillahirrohmanirrohim..
               Perjalanan hidup memang mempunyai banyak, dari bagian-bagian perjalanan yag telah ditapaki tentunya banyak kisah yang tertuang dalam ingatan. baik itu senang, sedih, sudah, ribet dan sebagainya.. (kutipan otak sendiri).
 "Setengah Tahun Seatap Bertiga Sudah Berlalu, dan saya yakin ini akan menjadi bagian dari rangkaian cerita"(Kasol).

              King House' merupakan bagian cerita yang akan menjadi kisah cerita tiga orang laki-laki yang datang dari berbagai penjuru jawa barat yang kemudian berkomitmen hidup seatap di tempat perantauan kota purwokerto.. ketiga lelaki tersebut  masuk di universitas yang sama : Unsoed. Fakultas yang sama : Pertanian. Dan Jurusan/prodi yang sama pula : Agribisnis/Sosial ekonomi.(sosek). tiga orang ini berasal dari berbagai daerah di jawa barat, yakni Sukabumi, Karawang dan Banten. Bahasa Sunda merupakan bahasa persatuannya di Kontrakan.
                  Banyak kesamaan dan tentunya banyak pula perbedaan diantara mereka, tetapi hal itu tidak berpengaruh buruk terhadap komunikasi dan hubungan persaudaraan itu. saya bisa sebutkan itu merupakan hubungan lebih dari pertemanan biasa. terjalin rasa persaudaraan diantara mereka bertiga secara alami dan naluriah. jika keadaan yang mempersatukan mereka mungkin merupakan jawabannya, karena mereka satu univ, satu fakultas, satu  jurusan dan bahkan satu bahasa sunda. ya mungkin saja. tapi lebih dari itu, kebersatuan mereka lebih berlandaskan pada rasa kenyamanan tiga individu tersebut dengan segala perbedaannya. suatu perbedaan yang tidak membedakan kisah dan hubungan sosial. itulah King House.

Ketiga lelaki tersebut  diantaranya : 
        1. Abdul Aziz biasa dipanggil King / Azis juga bisa, ia berasal dari Sukabumi. lulusan  peantren modern. Hhaha Santri.. Mantap.!!
       2. Resal Aprisal (namanya Sunda banget) dari kawasan industri Karawang. tapi ngakunya depan rumah ada sungai gede :-D. dia jago Fotografi
        3. Muhammad Sholeh Patiraja dari Pandeglang, Banten..

Sampai ketemu di tahun ajaran baru semester 6, brothers..
Salam sapa juga buat saudara-saudara ketemu gede, anak KS (Kontrana Suram)

Selasa, 22 Januari 2013

tutup bab semester 5 buka semester 6

Bismillahirrohmanirrohim..
        Alhamdulillah.. sebelumnya tak lupa selalu dipanjatkan puji & syukur atas rahmat Allah yang maha agung. dan shalawat selalu menggema diseluruh seisi bumi untuk Utusan-Nya, Nabi Muhammad SAW. hingga hari akhir..
        Hari ini selasa, 22 februari 2013. tiba-tiba ingat tentang libur semester yang sedang dijalani sekarang. terfikir sejenak ternyata ini liburan ke-5 setelah saya menjadi mahasiswa. yang artinya saya sudah 2,5 tahun menjadi mahasiswa. dan insya allah 1,5 tahun lagi lulus.. yakni genap 4 tahun, yaitu September 2014.
        jika banyak hal yang harus dituangkan dalam tulisan ini, maka hal yang ingin saya tuangkan berupa kenangan 2,5 tahun kebelakang, harapan dan cita-cita kedepan setelah tulisan ini saya buat. kata seorang trainer yang pernah menjadi mentor saya, ia mengatakan "Masa lalu adalah memory (kenangan), Masa sekarang adalah realiti, Masa depan adalah Mistery". yap benar memang yang ia katakan. sedetikpun yang tadi telah kita lewati, itu merupakan masa yang sudah berlalu dan takkan mungkin kembali lagi. semuanya itu cukup menjadi keangan dan pembelajaran yang berharga untuk kita melangkah kedepan yang lebih baik.
         satu titik fokus kini sudah harus benar-benar ditata sebaik mungkin. walau pun memang sedikit terlambat. tapi tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki hidup ini. rencana hidup (doa) rentang 1,5 tahun ini, bulan juni - juli 2013 PKL, Januari 2014 KKN, September 2014 lulus kuliah. Amin ya Allah ya rabb...
              lagi-lagi malam ini banyak kata yang meluap-luap yang seolah ingin keluar dan memuntahkan laharnya. pada sedikit bagian yang ingin diuraikan itu semoga kegiatan yang saya lakukan selama menjadi mahasiswa di Universitas Jenderal Soedirman membawa manfaat yang baik untuk keberlangsungan hidup di dunia nyata, dan saya dapat mempertanggugjawabkan semuanya dengan ilmu yang sudah saya gali di universitas ini. amin..
Semoga doa ini di kabulkan oleh Allah SWT. amin ya robbal alamin....

Selasa, 21 Agustus 2012

Gugusan Catatan Tanpa Suara


"Aku akan sangat bahagia bila ketenangan dan kenyamanan menghampiri".
Hal ini aku tak mengukur dengan melimpah ruahnya materi karena dunia memanglah bukan ukuran. dari dulu sampai sekarang banyak orang kaya yang mati karena bunuh diri disebabkan karena mereka tidak tenang.tetapi banyak orang miskin juga mati bunuh diri.. ya bukan karena mereka bingung menyembunyikan kemiskinan mereka sebagai harta yang mereka punya tetapi karena mereka juga susah untuk menjalani hidupnya dengan bahagia (ukuran kebutuhan materi).
Suatu hari saya pernah mendengar perkataan seorang pemuda "udahlah, saya cape ngurusin dunia saja. gak bakal ada habisnya". tak lama kemudian pemuda itu pun menyatakan pencariannya dalam dunia ini. pencarian kenyamanan dan ketenteraman hati..
hidup memang berat, berliku tajam dan curam. sulit sekali untuk dijalani tanpa berpegang pada satu tali..
pepatah memang benar bahwa perjalanan hidup itu seperti roda. kadang di atas kadang pula dibawah.. tetapi keberandaan itu sesungguhnya untukku jadikan pelajaran.
aku butuh ketenangan. dan kenyamanan. untuk hal ini saya mengukurnya dengan beberapa hal yang di rasa itulah komposisi-komposisi ketenangan yang saya cari..
1.kesejukan suara (omongan) yang masuk kedalam telinga
2.keindahan senyum dan halus tutur kata yang terucap
3.rasa saling tulus dan ikhlas
4.lapangnya hati sehingga tiap aliran napas yang mengalir itu terasa menyebar dalam tubuh
5.kejujuran dan toleran
dan banyak hal-hal lain yang bisa menjadi bahan baku suatu menu yang namanya ketenteraman hati..
bisa dikatakan bahwa dengan 'tali' yang baik kita bisa mengelola hati dan mendapatkan ketenangan hati.

bissmillahirrohmanirrohim..

Kamis, 16 Agustus 2012

Hujan nan sendu



Tak terlihat hadirmu disini saat ku  menyaksikan fajar yang merona menyemburkan cahayanya ke tiap jengkal hamparan bumi. Begitu pun saat siang memanggang kehidupan dan segala aktivitas mahluk penghuninya. Kadang aku merasakan kerinduan yang mendalam saat hujan saling berlompatan diantara dedaunan, genting rumah, jalan raya dan apa saja yang mereka sukai untuk melompat-lompat sebelum akhirnya menyelinap meresap kedalam tanah.
Hujan dan terik yang ku rasa kini terasa hambar, sama seperti beberapa musim sebelumnya setelah kau tiada kabar. Kini hujan, hujan yang mati rasa. Hujan yang hanya beraksen kegundahan. Awan berlarian saling menggulung, mendung yang gelap, angin menari dengan sadis. petir membahana, dan berakhir dengan hujan nan sendu memuncakkan segala perbedaan musim hujan yang pernah kita lewati dulu.
Tak pernah lagi ku lihat pelangi disisa hujan. Tak pernah lagi tercium aroma tanah yang menyeruak hidung. Tak pernah lagi badanku basah kuyup karena kita berlarian di tengah maraknya hujan. Tak pernah lagi kita tertawa gemetar karena kedinginan yang menggembirakan. Dan tak pernah lagi kulihat indahnya matahari yang menyepuhkan warna keemasan dirumput-rumput, daun-daun, lapangan dekat sungai, dipagar depan rumah dan ditiap sudut kota yang kita lewati saat hendak pulang ke rumah setelah bermain dengan hujan.
Selalu ku tuliskan tentang cara-cara kita bercengkrama dengan hujan ketika aku telah sampai dalam kamar. Kadang aku lahirkan kebahagiaan itu dengan puisi. Puisi tentang surganya hujan.
Kini aku tak sempat lagi megenal hujan yang dulu pernah singgah dihidupku tentunya dengan hadirmu. Sekarang aku mengenal sosok hujan yang menyeramkan. Mengenaskan. Menyayat luka ketika sang hujan menyapaku yang mengnintip dibalik jendela yang kemudian berteriak dan menangis histeris ketakutan lalu tertawa sehingga menghadirkan beberapa orang mendekatiku kamudian menuntunku masuk ke kamar.
Kini bagiku hujan lebih dari menyeramkan. Hujan ini membawa ketidak hadiranmu sehingga tak pernah lagi ku lihat pelangi disisa hujan. Tak pernah lagi tercium aroma tanah yang menyeruak hidung. Tak pernah lagi badanku basah kuyup karena kita berlarian di tengah maraknya hujan. Tak pernah lagi kita tertawa gemetar karna kedinginan yang menggembirakan. Dan tak pernah lagi kulihat indahnya matahari yang menyepuhkan warna keemasan dirumput-rumput, daun-daun, lapangan dekat sungai, dipagar depan rumah dan ditiap sudut kota. Karena setiap hujan aku akan dituntun oleh beberapa orang  kedalam kamar yang kemudian memberiku obat yang membuatku tertidur lelap disebuah kamar rumah sakit jiwa.

###