Tak
terlihat hadirmu disini saat ku
menyaksikan fajar yang merona menyemburkan cahayanya ke tiap jengkal
hamparan bumi. Begitu pun saat siang memanggang kehidupan dan segala aktivitas
mahluk penghuninya. Kadang aku merasakan kerinduan yang mendalam saat hujan
saling berlompatan diantara dedaunan, genting rumah, jalan raya dan apa saja yang
mereka sukai untuk melompat-lompat sebelum akhirnya menyelinap meresap kedalam
tanah.
Hujan
dan terik yang ku rasa kini terasa hambar, sama seperti beberapa musim
sebelumnya setelah kau tiada kabar. Kini hujan, hujan yang mati rasa. Hujan
yang hanya beraksen kegundahan. Awan berlarian saling menggulung, mendung yang
gelap, angin menari dengan sadis. petir membahana, dan berakhir dengan hujan
nan sendu memuncakkan segala perbedaan musim hujan yang pernah kita lewati
dulu.
Tak
pernah lagi ku lihat pelangi disisa hujan. Tak pernah lagi tercium aroma tanah
yang menyeruak hidung. Tak pernah lagi badanku basah kuyup karena kita berlarian
di tengah maraknya hujan. Tak pernah lagi kita tertawa gemetar karena
kedinginan yang menggembirakan. Dan tak pernah lagi kulihat indahnya matahari
yang menyepuhkan warna keemasan dirumput-rumput, daun-daun, lapangan dekat
sungai, dipagar depan rumah dan ditiap sudut kota yang kita lewati saat hendak
pulang ke rumah setelah bermain dengan hujan.
Selalu
ku tuliskan tentang cara-cara kita bercengkrama dengan hujan ketika aku telah
sampai dalam kamar. Kadang aku lahirkan kebahagiaan itu dengan puisi. Puisi tentang
surganya hujan.
Kini
aku tak sempat lagi megenal hujan yang dulu pernah singgah dihidupku tentunya
dengan hadirmu. Sekarang aku mengenal sosok hujan yang menyeramkan. Mengenaskan.
Menyayat luka ketika sang hujan menyapaku yang mengnintip dibalik jendela yang
kemudian berteriak dan menangis histeris ketakutan lalu tertawa sehingga
menghadirkan beberapa orang mendekatiku kamudian menuntunku masuk ke kamar.
Kini
bagiku hujan lebih dari menyeramkan. Hujan ini membawa ketidak hadiranmu
sehingga tak pernah lagi ku lihat pelangi disisa hujan. Tak pernah lagi tercium
aroma tanah yang menyeruak hidung. Tak pernah lagi badanku basah kuyup karena
kita berlarian di tengah maraknya hujan. Tak pernah lagi kita tertawa gemetar
karna kedinginan yang menggembirakan. Dan tak pernah lagi kulihat indahnya
matahari yang menyepuhkan warna keemasan dirumput-rumput, daun-daun, lapangan
dekat sungai, dipagar depan rumah dan ditiap sudut kota. Karena setiap hujan
aku akan dituntun oleh beberapa orang
kedalam kamar yang kemudian memberiku obat yang membuatku tertidur lelap
disebuah kamar rumah sakit jiwa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar