Serambi Dimensi

Selasa, 21 Agustus 2012

Gugusan Catatan Tanpa Suara


"Aku akan sangat bahagia bila ketenangan dan kenyamanan menghampiri".
Hal ini aku tak mengukur dengan melimpah ruahnya materi karena dunia memanglah bukan ukuran. dari dulu sampai sekarang banyak orang kaya yang mati karena bunuh diri disebabkan karena mereka tidak tenang.tetapi banyak orang miskin juga mati bunuh diri.. ya bukan karena mereka bingung menyembunyikan kemiskinan mereka sebagai harta yang mereka punya tetapi karena mereka juga susah untuk menjalani hidupnya dengan bahagia (ukuran kebutuhan materi).
Suatu hari saya pernah mendengar perkataan seorang pemuda "udahlah, saya cape ngurusin dunia saja. gak bakal ada habisnya". tak lama kemudian pemuda itu pun menyatakan pencariannya dalam dunia ini. pencarian kenyamanan dan ketenteraman hati..
hidup memang berat, berliku tajam dan curam. sulit sekali untuk dijalani tanpa berpegang pada satu tali..
pepatah memang benar bahwa perjalanan hidup itu seperti roda. kadang di atas kadang pula dibawah.. tetapi keberandaan itu sesungguhnya untukku jadikan pelajaran.
aku butuh ketenangan. dan kenyamanan. untuk hal ini saya mengukurnya dengan beberapa hal yang di rasa itulah komposisi-komposisi ketenangan yang saya cari..
1.kesejukan suara (omongan) yang masuk kedalam telinga
2.keindahan senyum dan halus tutur kata yang terucap
3.rasa saling tulus dan ikhlas
4.lapangnya hati sehingga tiap aliran napas yang mengalir itu terasa menyebar dalam tubuh
5.kejujuran dan toleran
dan banyak hal-hal lain yang bisa menjadi bahan baku suatu menu yang namanya ketenteraman hati..
bisa dikatakan bahwa dengan 'tali' yang baik kita bisa mengelola hati dan mendapatkan ketenangan hati.

bissmillahirrohmanirrohim..

Kamis, 16 Agustus 2012

Hujan nan sendu



Tak terlihat hadirmu disini saat ku  menyaksikan fajar yang merona menyemburkan cahayanya ke tiap jengkal hamparan bumi. Begitu pun saat siang memanggang kehidupan dan segala aktivitas mahluk penghuninya. Kadang aku merasakan kerinduan yang mendalam saat hujan saling berlompatan diantara dedaunan, genting rumah, jalan raya dan apa saja yang mereka sukai untuk melompat-lompat sebelum akhirnya menyelinap meresap kedalam tanah.
Hujan dan terik yang ku rasa kini terasa hambar, sama seperti beberapa musim sebelumnya setelah kau tiada kabar. Kini hujan, hujan yang mati rasa. Hujan yang hanya beraksen kegundahan. Awan berlarian saling menggulung, mendung yang gelap, angin menari dengan sadis. petir membahana, dan berakhir dengan hujan nan sendu memuncakkan segala perbedaan musim hujan yang pernah kita lewati dulu.
Tak pernah lagi ku lihat pelangi disisa hujan. Tak pernah lagi tercium aroma tanah yang menyeruak hidung. Tak pernah lagi badanku basah kuyup karena kita berlarian di tengah maraknya hujan. Tak pernah lagi kita tertawa gemetar karena kedinginan yang menggembirakan. Dan tak pernah lagi kulihat indahnya matahari yang menyepuhkan warna keemasan dirumput-rumput, daun-daun, lapangan dekat sungai, dipagar depan rumah dan ditiap sudut kota yang kita lewati saat hendak pulang ke rumah setelah bermain dengan hujan.
Selalu ku tuliskan tentang cara-cara kita bercengkrama dengan hujan ketika aku telah sampai dalam kamar. Kadang aku lahirkan kebahagiaan itu dengan puisi. Puisi tentang surganya hujan.
Kini aku tak sempat lagi megenal hujan yang dulu pernah singgah dihidupku tentunya dengan hadirmu. Sekarang aku mengenal sosok hujan yang menyeramkan. Mengenaskan. Menyayat luka ketika sang hujan menyapaku yang mengnintip dibalik jendela yang kemudian berteriak dan menangis histeris ketakutan lalu tertawa sehingga menghadirkan beberapa orang mendekatiku kamudian menuntunku masuk ke kamar.
Kini bagiku hujan lebih dari menyeramkan. Hujan ini membawa ketidak hadiranmu sehingga tak pernah lagi ku lihat pelangi disisa hujan. Tak pernah lagi tercium aroma tanah yang menyeruak hidung. Tak pernah lagi badanku basah kuyup karena kita berlarian di tengah maraknya hujan. Tak pernah lagi kita tertawa gemetar karna kedinginan yang menggembirakan. Dan tak pernah lagi kulihat indahnya matahari yang menyepuhkan warna keemasan dirumput-rumput, daun-daun, lapangan dekat sungai, dipagar depan rumah dan ditiap sudut kota. Karena setiap hujan aku akan dituntun oleh beberapa orang  kedalam kamar yang kemudian memberiku obat yang membuatku tertidur lelap disebuah kamar rumah sakit jiwa.

###